Energi Fosil Boros Rp366 Triliun


Energi Fosil Boros Rp366 Triliun

Laporan dari International Ergonomics Association (IEA) 2012 mengatakan bahwa proses perubahan energi fosil menjadi energi terbarukan membutuhkan Rp459 triliun. Untuk memotong efek gas rumah kaca diperlukan investasi berbagai bentuk energi bersih yang baru.

Selama delapan tahun ke depan, manusia akan mengeluarkan uang untuk energi terbarukan yang berguna untuk memelihara Bumi. Dalam kurun waktu itu, manusia akan menghabiskan uang untuk energi bersih sebesar Rp459 triliun.

Namun, hal ini adalah penghematan jika dibandingkan dengan penggunaan energi fosil dengan selisih Rp366 triliun dalam jangka waktu yang sama. Perhitungan IEA menyebutkan, jika manusia tidak menggunakan energi fosil selama lebih dari delapan tahun, maka Bumi ini akan menjadi cantik kembali.

Dalam situs cleantechnica disebutkan bahwa melindungi industri energi fosil sudah tidak dapat diharapkan lagi karena pemborosannya dan akibat dari penggunaannya. Dana sebesar Rp366 triliun dapat digunakan untuk menggantikan energi fosil yang harus sudah hilang pada tahun 2020.
Sumber: cleantechnica

Kawasan Karst Terancam Penambangan


Kawasan Karst Terancam Penambangan

Kawasan karst memiliki potensi keanekaragaman hayati. Namun, perlindungan wilayah tersebut masih belum maksimal, karena masih banyak sebagian kawasan karst dieksplorasi untuk pertambangan.
“Karst yang berada di luar wilayah hutan lindung tidak terjamin,” ujar Amran Achmad, Kepala Laboratorium Konservasi Sumber Daya Hutan dan Ekowisata Fakultas Kehutanan Universitas Hasanuddin, di Pusat Penelitian Biologi di Cibinong Bogor, Kamis, 3 Mei 2012.

Amran mengatakan karst yang berada di luar kawasan hutan gampang dieksplorasi oleh perusahaan penambang karena bukan dalam wilayah pemerintah.

Kawasan karst yang berada di luar hutan yakni karst yang digunakan oleh masyarakat. Dalam konteks ini karst tetap dapat dimanfaatkan oleh masyarakat dengan terus memberikan kesadaran untuk melestarikan kawasan karst.

“Itu tetap hak masyarakat. Mereka bisa manfaatkan untuk pengembangan ekowisata,” katanya.

Sedangkan kawasan karst yang diekplorasi oleh perusahaan tambang tinggal menunggu masa konsesi penambangan. Setelah masa konsesi selesai, perusahaan penambang tidak diperbolehkan memperpanjang kontraknya.

“Tambang tetap dibutuhkan, tapi nanti dipilih mana karst yang dapat ditambang. Misalnya jika sudah tidak ada sumber air lagi,” ujarnya.

Terkait dengan hal tersebut, saat ini Kementerian Lingkungan Hidup sedang dikembangkan kategori karst yang boleh dilakukan penambang atau tidak.

Ia mencontohkan bahwa di kawasan Karst di Maros Pangkep, karst mencapai  40 ribu hektar. Namun,  hanya 20 ribu di antaranya yang sudah masuk taman nasional hutan lindung.

Problem lain, lanjutnya, yakni untuk kawasan karst di luar kawasan hutan lindung Maros Pangkep yang luasnya ada luasan 200 ribu meter, ini belum ada peraturan. “Ini harus  dimasukkan dalam peraturan,” ucapnya.

Dari kawasan karst ini ia juga khawatir terhadap situs gua yang dapat terancam punah. Selain menyimpan potensi sumber air, ekosistem karst juga menyimpan potensi tumbuhan yang bermanfaat.

“Ada tumbuhan yang dapat sumber makanan masyarakat, bisa bikin kerupuk,” ujarnya.

Sumber : Vivanews