Satu dari 10 Ribu Kupu-kupu Waria


Satu dari 10 Ribu Kupu-kupu Waria

Seandainya kupu-kupu ini memiliki sayap pink dan biru, tentu akan lebih mudah mendeteksi dia memiliki dua kelamin. Pada kondisi normal kupu-kupu Papilio rumanzovia betina memiliki sayap pink, sedangkan jantan bersayap biru.

Kupu-kupu banci ini sangat langka. Lahir dengan dua jenis kelamin jantan dan betina. Serangga menakjubkan ini bernama gynandromorph. Sisi pink mewakili sisi jantan dan putih bagian betina.

Fenomena alamiah paling langka. Hanya 0,01 persen kupu-kupu dilahirkan sebagai gynandromorph. Artinya, hanya ada 1 dari 10 ribu. Kondisi ini disebabkan kegagalan pemisahan kromosom seks selama proses pembuahan.

Binatang ini ditemukan pada Proyek Butterfly World (Dunia Kupu-kupu) di Chiswell Green, Hertfordshire, Inggris. Seorang pelajar yang sedang berdarmawisata melihat sosoknya.

Pemimpin Butterfly World, Louise Hawkins mengatakan, “Saya sangat senang telah menyaksikan fenomena langka ini di Butterfly World, terutama karena terjadi pada awal karir saya.”

“Banyak pakar lepidoptera tidak memiliki kesempatan melihat gynandromorph selama karir mereka. Saya merasa sangat beruntung,” ujar kepala ahli lepidoptera ini di Butterfly World seperti dilansir dari Dailymail.co.uk.

Sayangnya, kupu-kupu langka ini lahir dengan tanpa belalai yang terbentuk sepenuhnya dan tabung untuk menyerap makanan. Kupu-kupu  ini pun telah mati. Tapi, binatang ini akan diawetkan untuk penelitian lebih lanjut.

Pencuri Riset Hayati Indonesia Berkedok Turis


Pencuri Riset Hayati Indonesia Berkedok Turis

Hasil penelitian keanekagaraman hayati  di Indonesia terancam dicuri pihak asing. Biasanya mereka berkedok turis.
Deputi Kepala Bidang Ilmu Pengetahuan Hayati LIPI, Bambang Prasetya mengungkapkan, pencurian riset atau contoh sampel biasanya menggunakan modus kerjasama dengan peneliti di beberapa perguruan tinggi.

“Mereka ini bukan peneliti formal. Mereka bermodus sebagai turis ke Indonesia, terus menjalin kerjasama dengan peneliti di daerah,” ujarnya seusai membuka Lokakarya Ekosistem Karst untuk Kelangsungan Hidup Bangsa di Pusat Penelitian Biologi LIPI, Cibinong Bogor, Kamis 3 Mei 2012.

Bambang prihatin dengan problem ini karena akan merugikan riset biologi di Indonesia.

Pada awal bulan lalu, publikasi hasil kerjasama riset dengan peneliti asing di jurnal internasional tidak mencantumkan nama peneliti LIPI.

Publikasi hasil riset yang dimaksud adalah penemuan spesies sekaligus genus tawon baru Megalara Garuda. Penemuan ini hasil ekspedisi Mekongga di Sulawesi Tenggara yang melibatkan peneliti LIPI, Rosichon Ubaidillah. Hasil penemuan kemudian dimuat di jurnal Zookeys. “Itu wanprestasi (ingkar janji) pada etika kesepakatan,” ujarnya.

Kasus ini sempat menjadi perhatian pemerintah Amerika Serikat. Peneliti yang bekerjasama dengan Rosichon salah satunya Lynn S Kimsey dari University of California, Davis, Amerika Serikat.

Bambang melanjutkan, pihaknya sudah mengirimkan surat kepada  Bruce Alberts, Utusan Presiden AS Obama dalam bidang sains.

“Dia konsen dalam hal ini. Kita sedang menunggu jawaban. Tapi,  biasanya kultur riset di sana, peneliti yang bersangkutan akan kena hukuman,” ujar Bambang.

“Kalau lokusnya di Indonesia dan tidak sebut patner penelitian, bisa ditindak,” katanya.

Terkait dengan etika kerjasama penelitian, Bambang merujuk pada kesepakatan Protokol Nagoya. Kesepakatan ini merupakan pengaturan internasional yang komprehensif dan efektif dalam memberikan perlindungan sumber daya genetik (SDG) dan menjamin pembagian keuntungan bagi Indonesia.

“Dalam protokol ini penelitian harus melibatkan peneliti lokal dan hasil riset harus memberikan manfaat bagi penduduk lokal,” jelasnya.

Berjalan 5 Tahun

Rosichon mengatakan fenomena pencurian keanekaragaman hayati melalui modus kerjasama riset ini terjadi sudah 5 tahun terakhir. Para peneliti asing masuk dengan memanfaatkan hubungan pertemanan dengan peneliti lokal.

“Mereka memanfaatkan hubungan perkenalan,” katanya yang dikenal sebagai peneliti serangga dengan spesialisasi serangga parasitoid.

Menurut Rosichon, sulit untuk mengendalikan hal tersebut karena peneliti datang dengan membawa nama pribadi. Dia meminta pihak terkait, dalam hal ini Kemenrisek, untuk menelusuri semua penelitian yang melibatkan peneliti asing.  “Kalau di LIPI semua ada kesepakatannya,” ujarnya.

Sumber : Vivanews

Pencurian Riset, Kerugian Tak Ternilai Materi


Pencurian Riset, Kerugian Tak Ternilai Materi

Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia merasa dirugikan akibat salah satu penelitian yang dilakukan bersama peneliti asing tidak mencantumkan nama peneliti LIPI. Publikasi hasil riset yang dimaksud adalah penemuan spesies sekaligus genus tawon baru, Megalara garuda.

Penemuan ini hasil ekspedisi Mekongga di Sulawesi Tenggara yang melibatkan peneliti LIPI, Rosichon Ubaidillah. Hasil penemuan kemudian dimuat di jurnal “Zookeys”.

Peneliti LIPI mengangap pencurian riset keanekaragaman hayati oleh peneliti asing bukan hanya soal kerugian materi. Namun, pencurian merupakan bukti tidak adanya penghargaan terhadap karya anak bangsa.

“Nilai kerugian intangible, tidak dapat dimaterikan. Sulit sekali, ini soal penghargaan bangsa lain, kami sudah tidak dianggap,” kata Peneliti Pusat Penelitian Biologi LIPI, Rosichon Ubaidillah di Gedung Zoologi Cibinonhg, Bogor, Kamis 3 Mei 2012.

Ia menambahkan bahwa kasus pencurian ini juga sudah termasuk penghinaan. “Ini penghinaan kedaulatan sains, padahal saya murni untuk kepentingan sains,” ujarnya dengan keras.

Karena merasa tak dianggap, Rosichon sudah menyampaikan protes kepada Lynn S. Kimsey dari University of California, Davis, Amerika Serikat, rekan riset hayati di Sulawesi Tenggara.

Akhir April lalu, ia menerima surat dari Lynn. “Dalam suratnya, Lynn berjanji akan kembalikan specimen ke LIPI, ia juga sampaikan permohonan maaf, dan mau mundur dari riset ini,” ujarnya.

Mengingat terlanjur kecewa, Rosichon meminta Lynn mengakhiri kerja sama 8 riset yang masih belum dipublikasikan. “Lebih baik nama saya dan spesimen dari Indonesia dikeluarkan dari paper, baru silakan Lynn publikasikan. Lupakan kerjasama,” ujarnya.

Sebelumnya, hasil riset itu terlihat hanya mencantumkan dua nama peneliti asing. Mereka adalah Lynn S. Kimsey dari University of California, Davis, Amerika Serikat dan Michael Ohl dari Museum fur Naturkunde, Jerman.

Sumber : Vivanews