Sepatu Sebagai Alat Isi Ulang Baterai


Sepatu Sebagai Alat Isi Ulang Baterai

Peneliti muda berusia 24 tahun, Anthony Mutua, menciptakan sepatu yang bisa berfungsi sebagai alat isi ulang baterai telepon genggam. Penemuan ini ditunjukkan kepada publik pada kegiatan Kenyan Science Technology and Innovation Week (KSTIW) di Nairobi. Sebuah chip tipis yang diintegrasikan dengan tenaga gerak memungkinkan sebuah sepatu menjadi alat isi ulang baterai.

Sepatu tersebut menggunakan chip kristal tipis yang akan mengumpulkan tenaga saat sepatu melengkung. “Alat isi ulang ini bekerja menggunakan tekanan, saat Anda berjalan, Anda akan menyalakan generator energi. Selesai berjalan, Anda akan duduk dan proses isi ulang baterai bisa dimulai,” jelas Mutua kepada CNC World.

Selain itu, alat isi ulang tersebut bisa dipindahkan dari satu sepatu ke sepatu lainnya. Semua sepatu dapat menggunakan alat ini, kecuali sandal hotel. Laporan mengatakan bahwa alat isi ulang dapat mengisi beberapa telepon genggam dalam satu waktu.

Dalam waktu dekat, alat ini akan beredar di pasaran karena sudah dipantenkan oleh Mutua. Dalam perencanaannya untuk menuju pasar, Mutua memperkirakan harga yang ditawarkan untuk masyarakat luas adalah sekitar Rp400.000 untuk sepasang sepatu.
Sumber: cleantechnica

Sepeda Listrik Roda Tiga Buatan SMK


Sepeda Listrik Roda Tiga Buatan SMK

Meski sudah purna dari jabatan Sekretaris Daerah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta dan pun gagal menjadi Wakil Wali Kota Yogyakarta dalam pemilukada Kota Yogyakarta lalu berpasangan dengan calon Walikota Hanafi Rais tak membuat Ir. Tri Herjun Ismadji, M.Sc patah arang dalam mengabdi untuk kepentingan masyarakat.
Bersama dengan sejumlah alumni teknik sipil Universitas Gadjah Mada yang sama-sama memiliki kegemaran mengendarai sepeda santai, Tri Herjun menciptakan Sepeda Listrik Roda Tiga (SLRT) yang dapat gunakan oleh para penyandang dan para lansia. Ide mereka ini selanjutnya diterjemahkan oleh siswa-siswa SMK yang tengah mengikuti pelatihan di Balai Latihan dan Pendidikan Teknik (BLPT) DIY. Lalu terciptalah sepeda yang dapat digunakan untuk lansia dan para difabel.

“Kami dari komunitas Sepeda Sehat Sipil (S3) UGM, coba membuat sepeda elektrik. Akhirnya dalam 21 hari bisa menghasilkan sepeda roda tiga yang dikerjakan oleh siswa-siswa SMK,” kata Tri Herjun, Kamis 3 Mei 2012.

Tri Herjun pun memaparkan berbagai keunggulan sepeda elektrik tersebut. Selain harganya memang relatif murah, SLRT dapat dipakai sebagai sarana olahraga,  rekreasi dan niaga.

“Dibanding dengan sepeda roda dua, SLRT lebih stabil dan bisa membawa beban 150 kg. Dilengkapi dinamo listrik, jika difabel tidak bisa mengayuh maka pakai dinamo,” katanya. Untuk menghidupkan dinamo listrik 350 watt, sepeda tersebut dilengkapi aki kering 12 ampere yang sebelumnya harus dicas selama 6-7 jam agar bisa menempuh jarak 60 kilometer dengan kecepatan 30-35 km/jam.

Untuk harga setiap unit sepeda eletrik, Tri Harjun menyatakan dipastikan lebih murah dibuat oleh bengkel lokal dan masyarakat bisa memesannya. “Jika dari luar negeri satu unit sepeda eletrik bisa mencapai harga antara 1.000 hingga 1,500 dolar, tentunya sepeda elektrik lokal ini jauh lebih murah,” katanya.

Lebih lanjut, Tri Herjun menyatakan sepeda listrik roda tiga ini untuk pertama kali dibuat di Indonesia. Sepanjang yang ia ketahui, belum pernah ada sepeda sejenis yang sudah diproduksi di dalam negeri. Kalau pun ada, jelas barang impor dan itu pun khusus sepeda lisrik roda tiga untuk para difabel sehingga tidak disertai alat pengayuh.

“Sepeda elektrik yang kita produksi juga dilengkapi dengan alat pengayuh,” katanya.

Rektor UGM Prof. Ir. Sudjarwadi, M.Eng., Ph.D., dalam mencoba mengendarai sepeda tersebut seraya memberi apresiasi kepada Tri Herjun Ismadji. “Apa yang dihasilkan ini bisa bermanfaat. Kita harus bangga dengan produk sendiri. Meski ini barus produk rintisan, tapi di masa mendatang bisa semakin lebih baik,” ujarnya singkat.

Sumber : Vivanews