Washington Post Merebut Digg


Washington Post Merebut Digg

Surat kabar ternama Amerika Serikat, The Washington Post telah mencapai kesapakatan dengan beberapa staff teknologi Digg. Mereka akan bekerja untuk lini bisnis baru, SocialCode. Situs ini bertujuan untuk membantu bagian pemasaran untuk membeli iklan pada Facebook dan Twitter.
Menurut laporan AllThingsD sebelumnya, perekrutan tim Digg akan memperkuat tim yang membuat Social Reader. Tim ini bekerja untuk lini bisnis lain, WaPo Labs.

SocialCode merupakan agensi iklan media sosial dari Washington Post. Sebanyak 15 orang staff teknologi Digg akan segera pindah. Tenang saja, suratkabar ini tidak mencaplok Digg. Laman itu akan terus ada.

“Domain Digg.com, layanan, dan teknologinya tidak diakuisisi oleh SocialCode,” tulis Washington Post dalam pernyataan resminya seperti dikutip dari Poynter.org.

Posisi pemimpin pada tim pengembangan SocialCode akan diisi Alan Lippman selaku Kepala Ilmuwan dan Will Larson sebagai Direktur Teknik. Anggota tambahan dari Digg akan bergabung sebagai pengembang juga.

“Kami bangga membagikan informasi bahwa tim teknologi Digg akan bergabung dengan SocialCode. Bergabung dengan SocialCode terasa seperti langkah lanjutan yang biasa,” ujar CEO Digg Matt Williams yang tidak ikut pindah.

SocialCode rilis pada Januari 2011 sebagai firma pemasaran Facebook. Perusahaan ini menawarkan analisis kompetitif, pengembangan aplikasi, manajemen halaman, perdagangan sosial, dan monetisasi penggemar. SocialCode telah meluaskan pasar ke Twitter.

Sumber : Poynter.org

Usia 19 Tahun Berhenti Kuliah Terus Jadi CEO


Usia 19 Tahun Berhenti Kuliah Terus Jadi CEO

Pemuda berusia 19 tahun ini percaya dia bisa belajar hanya dengan bekerja. Sahil Lavingia berhenti kuliah hanya setelah menjalani satu semester. Alasannya, dia bisa menghemat waktu 3,5 tahun dalam hidupnya. Sahil pun bekerja untuk mewujudkan impiannya.
Perusahaan yang menaunginya itu Pinterest, media sosial yang meraih 104 juta kunjungan pada Maret berdasarkan data Experian Hitwise. Pinterest menjadi jejaring sosial nomer tiga di dunia.

Lavingia pergi sebelum nama Pinterest terangkat. Dia tidak menyesal. Cita-citanya, menjadi CEO. Satu-satunya cara meraih itu dengan memulai usahanya sendiri.

“Saya sangat senang. Membangun perusahaan lebih baik daripada bekerja untuk orang lain,” ujar Lavingia seperti dilansir dari Mashable.com.

Pemuda ini memulai perusahaan baru bernama Gumroad. Startup ini bertujuan untuk mengatur pembayaran online bagi layanan penjualan produk kepada follower Twitter. Gumroad membuka langkah distribusi via jejaring sosial.

Gumroad dapat menghubungkan calon pembeli dan penjual melalui jaringan media sosial. Setelah Anda mendaftar ke Gumroad, Anda bisa menjual produk ke follower Twitter atau teman Facebook melalui link Gumroad. Pemimpin Turntable.fm, Seth Goldstein, menyebut layanan ini “PayPal untuk web sosial”.

Ini bukan ide baru. Anda bisa melakukan hal yang sama  menggunakan eBay. Tapi, Gumroad mengaku layanannya lebih cepat, simpel, dan murah.

Perusahaan ini mengambil bagian 5 persen dari hasil penjualan ditambah US$0,25. Lebih murah dibanding eBay yang meminta jatah 9 persen ditambah biaya pemuatan dalam kisaran US$0,10 hingga US$2. Potongan 5 persen ini termasuk lebih murah dibanding bagi hasil Amazon 50 persen dan iTunes 30 persen.

Investor yakin dengan Lavingia. SV Angel, Accel Partners, dan Lowercase Capital memandikan Gumroad dengan dana US$1,1 juta tahun lalu. Perusahaan ini mendapat suntikan dana lagi sebesar US$7 juta dari mantan petinggi Twitter dan mitra Kleiner Perkins Caufield & Byers, Mike Abbott.

Lavingia memulai menulis kode aplikasi sejak empat tahun lalu, saat berusia 15 tahun. “Saya mulai merancang lima atau enam tahun lalu, tapi saya bosan membuat gambar yang bagus,” ujar Lavingia.

Pemuda ini jatuh cinta pada iOS. Goldstein pun merekrut Lavingia untuk membuat aplikasi iPhone bagi perusahaannya.

“Dia pembuat kode yang baik, bijak, dan strategis. Saya berusaha mempekerjakannya, tapi dia mau membuat perusahaannya sendiri,” kenang Goldstein.

Kini CEO muda ini mengikuti langkah Mark Zuckerberg. Pemimpin Facebook itu mendekati pemodal agar berinvestasi saat dia berumur 20 tahun. David Karp juga meluncurkan Tumblr saat berusia 20 tahun. Brian Wong memulai pada usia yang sama dengan Lavingia saat memulai Kiip pada umur 19 tahun.

Pada usia muda, Lavingia telah menantang dirinya untuk mengelola perusahaannya sendiri. “Saya ingin melihat apakah saya mampu melakukannya. Ini menjadi cara yang baik untuk mengetahuinya,” cetus Lavingia.