Danau Satelit Saturnus Mirip Bumi


Danau Satelit Saturnus Mirip Bumi

Para ilmuwan telah lama berpikir bahwa danau pada satelit Saturnus, Titan yang dikenal sebagai Ontario Lacus merupakan danau yang relatif stabil terisi dengan hidrokarbon cair, seperti gas metana dan etana. Tapi, analisis dari data pesawat ruang angkasa Cassini NASA menemukan bukti baru dari saluran lama yang sebelumnya terukir pada ujung selatan dasar danau tersebut.

Data ini menunjukkan Ontario Lacus secara berkala mengering dan kemudian terisi ulang dari bawah tanah. Cara pengisian ini serupa dengan danau kering Etosha di Namibia, Afrika. Tempat berkumpulnya satwa liar ini akan memperoleh lapisan air dengan kandungan mineral yang tinggi. Hampir sepanjang tahun permukaannya dilapisi lumpur kering dengan garam.

“Beberapa hal terjadi di sini, terjadi juga di Titan,” ujar Bonnie Buratti selaku anggota tim Cassini yang berbasis di laboratorium Jet Propulsion NASA di Pasadena, California, Amerika Serikat.

“Di bumi, lahan bergaram cenderung terbentuk di gurun karena cairan dapat tiba-tiba berkumpul. Sepertinya hal yang sama terjadi di Titan,” sebutnya seperti dikutip dari laman Space.com.

Dengan diameter 5.150 kilometer, Titan hampir 50 persen lebih luas daripada bulan. Satelit yang lebih besar dari Titan dalam tata surya kita yakni Ganymede, yang  mengorbit Jupiter.

Titan menjadi satu-satunya wilayah di luar bumi yang diketahui memiliki lapisan cairan stabil pada permukaannya. Titan memiliki siklus cuaca serupa planet kita, meskipun lebih banyak mengandung hidrokarbon dibanding air.

Studi baru ini merupakan bagian dari investigasi yang sedang berlangsung Ontario Lacus. Pesawat Cassini telah mengamati danau tersebut untuk melihat kemiripan perubahan musim Titan dengan bumi.

Keberadaan molekul organik yang kompleks dalam atmosfer Titan yang tebal dan kaya nitrogen tersebut menarik minat para ahli astrobiologi. Tubuh satelit planet bercincin tersebut dapat menjadi salah satu tempat terbaik di tata surya untuk mencari kehidupan di luar bumi.

Persaingan Taksi Swasta Antariksa


Persaingan Taksi Swasta Antariksa

Jika taksi biasa mengantar Anda keliling kota, taksi antariksa mengantar-jemput ke Stasiun Antariksa Internasional. NASA mencari pihak swasta untuk mengembangkan bisnis taksi ini pada 2017.
Pesawat shuttle tertua NASA telah dipensiunkan ke museum. NASA mengantar Discovery ke Museum Antariksa dan Udara Nasional di Washington, D.C. Setelah program shuttle ditutup, NASA mencari langkah lain dengan mengembangkan bisnis baru, taksi antariksa. NASA berharap kompetisi ini dapat menurunkan biaya untuk membantu eksplorasi dan eksploitasi lebih jauh.

“Kami ingin membuat kompetisi ini berlangsung lama untuk melayani stasiun antariksa dengan kru dan kargonya secepat mungkin,” ujar Deputi NASA, Lori Garver, seperti dikutip pada laman Msnbc.msn.com.

NASA merencanakan untuk tetap terbang ke luar angkasa hingga 2020. Mereka telah membicarakan perihal ini dengan mitra internasional. Selama dua tahun ini, program Pengembangan Kru Komersial NASA telah memberikan US$320 juta kepada empat perusahaan penerbangan yakni SpaceX, Blue Origin, Sierra Nevada, dan Boeing.

SpaceX menggunakan uang NASA untuk memperbarui kapsul Dragon. Taksi ini akan menjadi pengantar kargo untuk kebutuhan di luar angkasa.

Kompetitornya datang dari perusahan penerbangan raksasa Boeing. CST-100 diprediksi siap meluncur pada 2015-2016.

Pendiri Amazon.com pun ikut dalam kompetisi taksi ini dengan perusahaan Blue Origin. Space Vehicle disiapkan untuk terbang pada 2018.

Perusahaan Sierra Nevada tidak mau kalah. Taksi Dream Chaser yang didesain untuk tujuh orang ini dapat beroperasi pada 2015.

Menurut laporan laman Space.com, terdapat 10 konsep taksi antariksa yang siap menjadi kenyataan.