Virus Bisa Jadi Sumber Energi Listrik


Virus Bisa Jadi Sumber Energi Listrik

Ilmuwan di Berkeley, California menemukan cara baru menghasilkan listrik. Dengan sebuah teknik yang mereka kembangkan, virus bisa diubah menjadi penghasil listrik.
Terobosan ini berarti suatu hari nanti kita bisa mengisi ulang baterai perangkat seperti ponsel misalnya, dengan generator setipis kertas yang menghasilkan listrik.

Generator ini dengan elektroda di dalamnya ini memiliki lapisan film dari virus yang direkayasa. Meski demikian, diakui para ilmuwan yang mengembangkan metode ini, penemuan mereka masih tahap awal dan perlu dikembangkan lebih lanjut.

“Masih perlu banyak penelitian. Namun hasil kerja kami menjanjikan langkah awal menuju pengembangan generator penghasil listrik personal,” kata Seung-Wuk Lee dari Department of Energy’s Lawrence Berkeley National Lab Amerika Serikat (AS) mewakili timnya.

Menggunakan teknik rekayasa genetika, tim ilmuwan menambahkan empat molekul bermuatan negatif pada salah satu ujung dari sebuah alat berwujud protesin yang melapisi virus.

 

Dikutip dari My Fox, Kamis (16/5/2012), generator ini bekerja dengan memanfaatkan properti bernama piezoelectric dari bakteri M13, sebuah virus yang hanya menyerang bakteri dan jinak terhadap manusia.

Piezoelectric dapat mengubah energi mekanik menjadi listrik. Piezoelectricity sendiri adalah listrik yang dihasilkan dari akumulasi tekanan, seperti pada pemantik api untuk menyulut sebatang rokok.

“Karena perangkat bioteknologi memungkinkan produksi virus yang dimodifikasi berskala besar, materis piezoelectri berbasis virus bisa menawarkan kemudahan microelectronic di masa depan,” kata Lee.

Sumber : Detikinet

Teknopolis, Gedung Berbasis Iptek Dibangun di Indonesia


Teknopolis, Gedung Berbasis Iptek Dibangun di Indonesia

Untuk menumbuhkembangkan wirausaha dan usaha berbasis teknologi, inkubasi teknologi menjadi salah satu strategi penting. Strategi ini bisa menjadi alat untuk mengakselerasi tingkat adopsi inovasi teknologi melalui mekanisme alih teknologi secara korporat. Khususnya untuk produk-produk hasil penelitian.

Strategi ini dijalankan Indonesia melalui Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) dengan membangun Gedung Inkubator Tekhnologi di Cibinong Science Center, Bogor, Jawa Barat. Pembangunannya dimulai Jumat pagi (11/5) dengan peletakan batu pertama secara simbolis.

Teknopolis atau technology park, sebutan gedung ini, telah didirikan di beberapa negara. Selain sebagai gedung berbasis tekhologi, Teknopolis juga jadi jembatan interaksi antara institusi penelitian dan akademisi dengan pihak industri.

Menurut Kepala LIPI Lukman Hakim, strategi penting dalam meningkatkan daya saing nasional adalah dengan memperpendek kesenjangan interaksi antara institusi penelitian dengan pihak industri. Namun, hal ini mengalami kendala dalam hal proses alih teknologi dari institusi sebagai pusat keilmuan kepada pengguna akhir.

Untuk mengatasinya, kata Deputi Jasa Ilmiah LIPI Fatimah Padmadinata, diperlukan sistem ketatalaksanaan yang tepat antara sumber iptek dan pengguna menurut format efektif dalam berkomunikasi. “Science and Technology Park merupakan salah satu jawaban untuk mengurangi permasalahan ini,” kata Fatimah.

Dalam Teknopolis ideal, terdapat inkubator teknologi dan harus memberikan asistensi untuk menghindari tiga kendala utama. Yakni dana inkubasi, riset, dan informasi untuk membentuk sebuah idustri skala kecil berbasis teknologi.

National Geographic Indonesia

Sumber :  National Geographic Indonesia