Terapi Ikan Berpotensi Sebabkan Infeksi Kulit


Terapi Ikan Berpotensi Sebabkan Infeksi Kulit

Sejumlah peneliti asal Inggris menyebutkan bahwa Fish pedicure yang kini marak digelar di spa dan pusat kebugaran lainnya berpotensi menyebarkan berbagai patogen dan infeksi akibat bakteri pada pasien. Saking bahayanya, mereka sampai-sampai mengirimkan surat peringatan yang dipublikasikan di jurnal Emerging Infectious Diseases, sebuah publikasi milik US Centers for Disease Control and Prevention.

Terapi yang dikenal juga dengan istilah ichthyotherapy ini melibatkan hewan yang disebut dengan ikan dokter atau “Garra rufa” yang merupakan spesies ikan sungai asal Eurasia (Eropa dan Asia). Ikan-ikan ini ditempatkan pada bak di spa, kemudian kaki – atau bahkan seluruh tubuh – pasien dicelupkan ke dalamnya. Ikan-ikan ini kemudian akan memakan kulit mati atau yang ingin disingkirkan dari tubuh.

Menurut peneliti asal Center for Environment, Fishes & Aquaculture Science (CEFAS), ikan-ikan tersebut bisa jadi merupakan sumber dari berbagai organisme dan penyakit. Beberapa di antaranya bisa menyebabkan infeksi jaringan lunak yang bisa menyebar di kulit manusia. Apalagi banyak di antaranya merupakan infeksi yang tahan terhadap antibiotik.

David Verner-Jeffreys, ketua tim peneliti menyatakan, di Inggris saja, pada tahun 2011 lalu terdapat lebih dari 280 lokasi ‘spa ikan’ dengan sekitar 15 sampai 20 ribu ekor ikan didatangkan per minggunya dari sejumlah negara-negara Asia. Mereka juga mencatat, pada April 2011 lalu, sebanyak 6.000 ekor ikan diimpor ke sejumlah spa-spa di Inggris dari Indonesia.

Ternyata, ikan-ikan ini terkena wabah penyakit yang menyebabkan pendarahan dari mulut, insang dan perut mereka, dan menyebakan kematian hampir seluruh ikan tersebut. Akibat kasus ini, para ilmuwan Inggris menemukan tanda-tanda adanya infeksi akibat bakteria (disebabkan oleh patogen yang disebut dengan S agalactiae) yang ada di hati, ginjal, dan limpa para ikan tersebut.

“Akibat kasus ini, kami melakukan lima kali penyensoran terhadap ikan-ikan yang diimpor lewan bandara Heathrow dan menemukan tanda-tanda lebih lanjut terkait infeksi dan sejumlah patogen tambahan,” ucap Verner-Jeffreys. “Banyak di antaranya yang ternyata kebal terhadap obat-obatan antimikrobial seperti tetracycline, fluoroquinolone, dan aminoglycoside,” ucapnya.

Verner-Jeffreys menyebutkan, mereka yang sangat terancam adalah mereka yang tengah berkutat dengan diabetes, penyakit liver, dan atau punya masalah kekebalan tubuh.

George A. O’Toole, professor dari Department of Microbiology and Immunology, Geisel School of Medicine, Dartmouth, Hanover, Amerika Serikat menyebutkan, sangatlah tidak mungkin melakukan sterilisasi terhadap ikan-ikan ini. “Adapun untuk airnya, meski Anda membuangnya setelah pasien selesai terapi, organisme-organisme itu akan membentuk komunitas di permukaan bak tersebut,” kata O’Toole.

“Membasuhnya saja tidak cukup. Anda perlu melakukan sterilisasi terhadap bak penampung ikan setiap satu pasien selesai terapi. Jika tidak, mereka akan tetap ada di sana meski airnya telah diganti dengan yang baru,” ucapnya.

Praktek pengangkatan kulit mati ataupun kulit yang rusak menggunakan ikan air tawar ini sendiri sudah dilarang di banyak negara bagian di Amerika Serikat. Sayangnya, saat ini terapi tersebut justru sedang marak-maraknya di Inggris dan sejumlah negara lain di dunia.
Sumber: News24