Bintang yang Menjadi Pesaing Matahari


Bintang yang Menjadi Pesaing Matahari

Bintang yang menjadi pusat lima planet ini akan menjadi pesaing tata surya. Jika berhasil dikonfirmasi, bintang serupa matahari ini akan menetapkan rekor baru planet di luar tata surya yang pernah ditemukan.
Bintang ini yang disebut HD 10180 berlokasi sejauh 127 tahun cahaya dari bumi. Pada studi yang dipublikasikan Agustus 2010, para ahli astronomi mengidentifikasi lima benda langit asing dan dua kandidat planet.

Studi saat ini mengonfirmasi kandidat sebelumnya dalam sistem HD 10180. Dua planet lain diduga mengorbit bintang ini. Ini bisa membawa perhitungan hingga sembilan planet, seperti yang ditulis ahli astronomi Universitas Hertfordshire, Inggris, Mikko Tuomi.

Sebagai perbandingan, sistem tata surya kita memiliki delapan planet resmi. “Data menunjukkan bahwa tidak hanya tujuh, tetapi mungkin sebanyak sembilan planet dalam sistem,” kata Tuomi

Sumber : Space.com

SolO, Satelit yang Didesain Dekati Matahari


SolO, Satelit yang Didesain Dekati Matahari

Perusahaan asal Inggris akan memimpin pembuatan Solar Orbiter (SolO). SolO sebuah pesawat luar angkasa yang akan melakukan perjalanan lebih dekat ke matahari daripada satelit yang ada saat ini.

SolO akan mengambil gambar dan melakukan pengukuran dari dalam orbit Merkurius, untuk mendapatkan wawasan baru tentang apa yang mendorong pergerakan dinamis bintang.

Badan Antariksa Eropa telah menandatangani kontrak dengan perusahaan asal Inggris, Astrium, untuk membangun SolO senilai 300 juta euro, untuk peluncuran pada 2017. Kesepakatan ini merupakan kontrak yang terbesar di Inggris.

Kontrak ini juga menandai 50 tahun aktivitas Inggris dalam bidang orbit. Pada 26 April 1962 silam merupakan hari di mana Inggris mampu mengarungi ruang angkasa dengan peluncuran satelit Ariel-1.

Direktur Badan Antariksa Eropa, Alvaro Gimenez dan  eksekutif Astrium, Miranda Mills, mencapai kesepakatan SoIO di Science Museum, London, tempat model Ariel-1 dipamerkan.

Setelah peluncuran, Solar Orbiter akan ‘melayang’ sendiri ke dalam tata surya dan mendekati matahari dengan jarak 42 juta km. Untuk melakukan ini, dibutuhkan pesawat ruang angkasa yang membawa sebuah perisai kuat.

“Panas akan menjadi masalah besar,” kata Ralph Cordey, kepala sains Astrium. “Jika tidak dilindungi, wajah pesawat ruang angkasa akan terkena panas 500 derajat, yang akan menjadi bencana,” lanjutnya.

“Kami akan menggunakan pelindung panas yang tebal untuk mengurangi suhu dalam pesawat ruang angkasa dan sistem menurunkan suhu ruangan. Sehingga semua elektronik dapat beroperasi secara nyaman,” ucapnya.

Instrumen penginderaan terluar dari satelit tersebut, yakni pencitra dan teleskop, akan dapat melihat meskipun celah yang memiliki alat pengatur cahaya dapat ditutup saat tidak ada pengamatan yang dilakukan.

Misi ini dirancang untuk meningkatkan pemahaman tentang bagaimana matahari mempengaruhi lingkungan. Khususnya mengenai bagaimana matahari menghasilkan dan mengakselerasi aliran partikel bermuatan yang berada di sekeliling planet.

Angin matahari bisa sangat bergolak, dan letusan besar di permukaan matahari akan membuat gangguan besar dalam angin. Ketika aliran partikel ini menyentuh atmosfer bumi dan planet-planet lain, itu menimbulkan cahaya aurora spektakuler.

“Misi Solar Orbiter akan memberitahu kita bagaimana matahari menciptakan heliosphere, gelembung bermuatan partikel di sekeliling tata surya, yang Anda anggap sebagai atmosfernya,” jelas Lucie Green, fisikawan matahari dari University College London. “Heliosphere adalah panas dan mengembang keluar ke angkasa sekitar 17 miliar km,” tambahnya.

“Kami tidak tahu bagaimana hal itu terbentuk dan bagaimana itu bermuatan dengan waktu. Tetapi Solar Orbiter akan benar-benar jauh ke dalam atmosfer untuk melihat di mana di permukaan emisi muncul, untuk akhirnya memahami bagaimana gelembung besar dibuat,” katanya.

Untuk mencontohkan angin matahari tersebut seperti saat terjadi di permukaan, Solar Orbiter telah memiliki lima instrumen pengujian di tempat. Ini untuk mengkonfirmasi semua fungsi suatu sistem secara benar.

Orbit satelit juga akan mengambil satelit di atas pesawat dari planet-planet sehingga satelit dapat melihat beberapa proses pada perangsangan di kutub matahari. Dan kecepatan SolO di sekitar bintang berarti kecepatan ini akan dapat mengikuti kejadian dan ciri-ciri yang biasanya. memutar dari pandangan observatorium Bumi.

Misi Lain

Inti dari usaha ini yakni keinginan untuk memahami lebih baik penyebab dari apa fisika surya yang disebut “cuaca luar angkasa”.

Badai besar pada matahari yang melemparkan milyaran ton partikel bermuatan keluar ke angkasa dapat mengganggu medan elektromagnetik di Bumi. Ini mengakibatkan gangguan komunikasi dan dalam kasus yang ekstrim, merusak jaringan listrik dan elektronik satelit.

Para ilmuwan ingin dapat meramalkan kejadian seperti sebelumnya dengan lebih jelas.

Solar Oribter merupakan perusahaan patungan antara Badan Antariksa Eropa (ESA)dan badan antariksa AS (NASA). NASA akan memasok satu instrumen, sensor dan roket untuk mengirim satelit dalam proyek perjalanan ini.

Proyek ini muncul dari sebuah kompetisi di antara para ilmuwan ruang angkasa Eropa untuk menemukan misi kelas menengah yang paling menarik untuk mengambil celah peluncuran yang tersedia pada akhir dekade ini.

Badan Antariksa Eropa akan segera menandatangani sebuah misi yang selanjutnya, yang disebut Euclid. Misi ini akan menyelidiki fenomena misterius, materi gelap dan energi gelap, yang mendominasi dan membentuk alam semesta yang terlihat melalui teleskop.

Pertama kalinya dalam sebuah kelas baru misi besar, yang membutuhkan biaya milyaran euro, akan dipilih minggu depan. Ini diharapkan dapat menjadi misi untuk mempelajari es bulan Jupiter.

Sumber : BBC

Kisah Ayam Pengukur Badai Matahari


Kisah Ayam Pengukur Badai Matahari

Matahari mengalami badai radiasi terparah pada bulan lalu. Satelit dilempari berbagai partikel. Aurora bersinar kuat pada kedua kutub bumi. Pelajar SMA di Bishop, California, Amerika Serikat tahu apa yang harus dilakukan. Mereka meluncurkan ayam karet ke stratosfir.

Para siswa ini menerbangkan balon helium dan memuat mainan karet berbentuk ayam bernama Camilla. Maskot Solar Dynamics Observatory (SDO) ini dikirim ke ketinggian 120 ribu kaki. Ayam ini akan terekspos kekuatan energi proton solar pada jarak dekat.

“Kami melengkapi Camilla dengan sensor pengukur radiasi,” ujar pelajar SMA Bishop, Sam Johnson seperti dikutip dalam laman Nasa.gov.

Peluncuran ayam karet untuk mengukur badai matahari mungkin terdengar aneh. Tapi, siswa ini memiliki alasan yang menarik. Mereka sedang melakukan proyek astrobiologi.

“Akhir tahun ini kami berencana untuk meluncurkan spesies mikroba untuk mengetahui apakah mereka dapat hidup pada batas angkasa. Ini adalah penerbangan pengintaian,” ujar anggota kelompok Rachel Molina yang baru berusia 17 tahun.

Penggemar angkasa luar banyak yang telah akrab dengan sosok Camilla. Ayam ini menjadi maskot Observatori Dinamika Surya NASA. Dengan bantuan sang penjaga dari Universitas Stanford, Romeo Durscher, Camilla memiliki lebih dari 20.000 follower Twitter, Facebook, dan Google +. Isi statusnya seputar misi terbaru NASA. Ternyata, ayam ini populer pula di jagat dunia maya.