Open Source & Pembajakan di Indonesia yang ‘Selangit’


Open Source & Pembajakan di Indonesia yang ‘Selangit’

Seiring bertumbuhnya jumlah pengguna open source, seharusnya tingkat pembajakan bisa menurun. Pasalnya, open source diklaim bisa meredam pembajakan. Tapi nyatanya, tingkat pembajakan masih tetap tinggi.
Data Business Software Alliance (BSA) menyebutkan, secara keseluruhan tingkat pembajakan software di Indonesia saat ini mencapai 86% di tahun 2011. Lantas, statement yang menyebutkan open source bisa meredam pembajakan akankah terealisasi?

Ditanya pendapatnya mengenai hal ini, penggiat open source I Made Wiryana mengatakan dengan yakin bahwa tingkat pembajakan bisa menurun dengan open source akan terwujud. Namun, perhitungan tingkat pembajakan juga harus diperhitungkan.

“Kita harus tahu perhitungan tingkat pembajakan itu seperti apa. Selama ini, yang dihitung adalah estimasi tingkat lisensi yang dibeli terhadap perangkat keras yang terjual,” paparnya.

Made mencontohkan, jika di Indonesia ada 100.000 komputer yang terjual, ternyata yang membeli lisensi software propietary tercatat hanya 100 orang. Artinya, tingkat pembajakan yang dihitung adalah 100.000 – 100 : 100.000. Sementara itu, mereka yang tidak membeli lisensi, namun menggunakan open source, tidak dihitung sebagai pengurang tingkat pembajakan.

“Ada sekian ratus komputer yang terjual, seharusnya ada sekian ratus lisensi Microsoft Word misalnya. Tapi nyatanya tidak, karena banyak yang pakai Open Office. Nah, itu dianggap membajak karena tidak ada catatan pembelian software propietary,” jelas ayah satu orang putra ini.

Padahal, saat ini juga sudah banyak perangkat, terutama notebook yang dijual tanpa bundling software propietary di dalamnya. Terserah si empunya notebook mau menginstal software propietary atau open source.

Memang, pria yang juga berprofesi sebagai dosen ini tidak memungkiri jika masih banyak pengguna software bajakan di Indonesia. Hal itu menurutnya karena faktor kebiasaan dan ketidakpedulian. Meski demikian, dia tetap membenarkan jika open source akan meredam pembajakan.

“Bisa terealisasi karena orang jadi gak pakai software bajakan. Tapi kalau berbicara urusan angka, bisa dipertanyakan ke BSA. Apakah mereka mengestimasi dengan cara lama atau baru,” kata Made.

Namun penghitungan menurutnya memang akan sulit. Pasalnya, tidak ada yang mempunyai data, misalnya jumlah pengunduh Open Office sebagai pengurang tingkat pembajakan. “Di Open Office ada (datanya). Tapi dia kan bebas dikopi. Misalnya saya download, lalu saya kopi yang banyak untuk mahasiswa saya. Dan itu legal, tidak membajak,” tutupnya.

Sumber : Detikinet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s