Lima Planet Terlihat Sepanjang Mei


Lima Planet Terlihat Sepanjang Mei

Bulan ini langit ramai dengan penampakan. Mei dibuka dengan keindahan terangnya planet Venus seusai senja pada langit barat. Masih ada empat planet lagi yang bisa Anda lihat dengan mata telanjang.
Ketika gelap datang, planet Venus, Mars, Saturnus akan berbagi terang di langit malam sepanjang bulan. Merkurius dan Jupiter melintas di balik matahari selama bulan ini.

Kendati tiga planet ini semua datang setelah senja, lihatlah Venus lebih dulu di langit barat. Venus hadir pada pertengahan malam di awal Mei.

Mars tetap bertengger hingga dini hari. Saturnus menyala hingga matahari terbit sepanjang bulan. Bulan ini juga menjadi kesempatan terakhir melihat keberadaan Venus sebagai “bintang” malam. Tapi, Mars dan Saturnus setia hingga beberapa bulan lagi.

Gemerlap lain datang dari kiri Venus, bintang Sirius. Keduanya berdampingan selepas matahari terbenam. Keindahan langit Mei berakhir pada 22-23 Mei. Menurut laman Space.com, ini menjadi saat terakhir bulan dan Venus berdampingan di langit malam.

Sumber : Space

Kuliah Online Gratis di Harvard dan MIT


Kuliah Online Gratis di Harvard dan MIT

Universitas ternama di Amerika Serikat, Harvard dan MIT membuka kelas gratis di internet. Layanan ini bisa dinikmati pelajar di penjuru dunia. Program gabungan edx ini menggunakan platform belajar online MIT, MITx.
Kemitraan MIT dengan Harvard memberikan beragam kursus, termasuk Sirkuit dan Elektronik. Sebanyak 120 ribu pelajar di seluruh dunia dapat menjajal kursus ini.

Kursus yang ditawarkan melalui edx ini memberikan kuliah melalui video, kuis online, dan pemeriksaan real-time. Siswa akan menerima sertifikat keahlian berdasarkan hasil belajar mereka.

Beberapa tahun terakhir, sistem belajar online semakin berkembang. Dengan dukungan koneksi internet tingkat tinggi, komputer memadai, dan teknologi pendukung seperti komputasi awan dapat membantu penyelenggaraan sistem edukasi ini.  Edx menjadi yang terbaru dan paling prestisius di antara semarak pendidikan online ini.

Platform edx ini juga membantu institusi pendidikan MIT dan Harvard untuk menjaring pelajar paling cerdas dari berbagai belahan dunia, seperti dikutip dari laman Technologyreview.com.

Direktur Ilmu Komputer dan Laboratorium Intelejensia Artifisial MIT, Anant Agrawal mengatakan edx juga melibatkan cara baru belajar online dengan mesin yang diprogram untuk menilai ujian.

Agrawal yang bertugas mengawal program ini menjelaskan, eksperimen baru dapat terlaksana untuk mengeksplorasi cara orang belajar dan meningkatkan prosesnya.

Ketika ditanya siapa pemimpin tren pelajaran interaktif ini, Agrawal menunjuk Salman Khan. Lulusan MIT dan Harvard ini memulai metode ini untuk mengajarkan sepupunya via YouTube. Kini Khan menciptakan platform pembelajaran online, Khan Academy.

Sumber : Technologyreview

Kutu Ini Sanggup Melubangi T-Rex


Kutu Ini Sanggup Melubangi T-Rex

Dengan ukuran sepuluh kali lebih besar kutu versi zaman sekarang, entah seperti apa rasanya digigit binatang ini. Beruntung, kutu ini sudah punah.
Ilmuwan menemukan kutu purba dengan kaki yang sanggup mencengkram kulit keras dinosaurus terbesar. Kulit t-rex ssaja sanggup ditembus. Profesor  George Poinar Jnr dari Universitas Negeri Oregon menggambarkan dua spesies kutu buas ini.

Kutu ini memiliki nama Pseudopulex jurassicus dan Pseudopulex magnus.

“Dari ukuran moncong mereka, kita bisa tahu mereka sangat jahat. Tusukannya akan terasa seperti jarum suntik . Tembakan kutu, bukan vaksin flu,” ujar Poinar seperti dikutip dari Dailymail.co.uk.

Kutu ini ditemukan di antara fosil-fosil di Mongolia.  Diperkirakan binatang purba ini hidup pada zaman Jurrasic.

Satu-satunya yang membahagiakan para dinosaurus, kutu ini tidak bisa melompat seperti kutu zaman sekarang. “Fosil kompresi” ini merupakan serangga asli yang diawetkan dengan menjadi fosil selama jutaan tahun.

“Kita harus bersyukur, kutu modern tidak bisa sebesar ini,” ujar profesor emeritus zoologi ini.

Penemuan fosil organisme serupa kutu ini berikut hasil penelitiannya dimuat pada jurnal online Current Biology.

Sumber : DailyMail

Habitat Hilang Muncul Usai Gempa dan Tsunami


Habitat Hilang Muncul Usai Gempa dan Tsunami

Habitat yang lama terlupakan dan kebangkitan spesies yang tidak pernah terlihat selama bertahun-tahun menjadi efek bencana alam yang diidamkan. Peneliti menemukan keinginan itu di pasir pantai pusat utara Chile.
Setelah gempa 8.8 SR dan tsunami pada 2010 yang menimbulkan kondisi mengenaskan, ada sisi lain muncul dari bencana ini. Studi mengungkapkan masalah yang ditimbulkan kenaikan permukaan laut yakni gejala besar perubahan iklim.

Peneliti dari Universitas de Chile Austral dan UC Santa Barbara Marine Science Institute (MSI) mampu mendokumentasikan dampak ekologi sebelum dan sesudah bencana alam tersebut. Hasil temuan ini dimuat pada jurnal PLoS ONE.

Hasil mengejutkan dari penelitian kolaborasi ini menunjukkan potensi dampak bencana alam pada pasir pantai di seluruh dunia.

“Anda sering berpikir gempa menyebabkan kehancuran total. Dengan tambahan tsunami menjadi bencana yang mengancam ekosistem. Seperti yang diharapkan, kami melihat tingkat kematian yang tinggi pada kehidupan pasang surut di pantai dan pesisir berbatu. Tapi, perbaikan kondisi ekologi pada pantai berpasir sangat menakjubkan,” urai peneliti biologi MSI, Jenifer Dugan.

Gempa membuat habitat yang hilang di pantai berpasir muncul kembali. Tanaman kembali tumbuh di tempat yang telah lama kosong.

“Ini bukan respon ekologi yang Anda duga dari gempa bumi besar dan tsunami,” ujar Dugan seperti dimuat pada laman Eureka.org.

Dengan dukungan Fondo Nacional de Desarrollo Científico y Tecnológico di Chile dan program Penelitian Jangka Panjang Ekologi Pesisir Santa Barbara, peneliti dapat melihat perubahan yang terjadi di pantai Santa Barbara dan Chile.

“Pantai menjadi pelindung yang baik dari kenaikan permukaan laut. Pantai penting untuk rekreasi dan juga konservasi,” cetus Dugan.

Sumber:  Eureka.org

Dua Hari Lagi Supermoon di Langit Indonesia


Dua Hari Lagi Supermoon di Langit Indonesia

Begitu banyak rahasia alam raya yang belum sanggup dikuak para ahli. Dari Black Hole –sebuah lubang raksasa gelap di alam raya yang bisa membantai bintang, planet yang mirip betul dengan bumi seperti Zarmina, hingga “partikel Tuhan” yang sudah bertahun-tahun diburu para ahli. Tapi banyak juga keajaiban alam yang bisa disaksikan dengan mata telanjang.

Salah satunya adalah fenomena bulan raksasa, supermoon, saat di mana kita bisa melihat bulan dalam ukuran raksasa. Pakar astronomi, Dr. Moedji Raharto memprediksi fenomena bulan raksasa itu akan hadir di langit Indonesia pada Minggu, 6 Mei 2012. Sementara, Amerika Serikat bisa melihat lebih awal pada 5 Mei 2012 seperti tertulis pada laman Space.com.

Bulan raksasa ini muncul bertepatan dengan perayaan Hari Raya Waisak. “Bulan sudah purnama pada waktu itu,” ujar Moedji saat diwawancarai Vivanews.com via telepon pada Kamis, 3 Mei 2012.

Anda dapat melihat supermoon dengan mata telanjang apabila tidak ada rintangan hujan. “Seharusnya Mei-Juni sudah musim kemarau. Tapi, sekarang anomali,” ujar dosen Institut Teknologi Bandung ini.

Menurut Moedji, Anda bisa melihat supermoon selepas sore hingga menjelang pagi. Usai matahari terbenam, bulan terbit di langit Timur.

Menikmati bulan purnama raksasa ini bisa dilakukan pada tengah malam. Posisi bulan berada di atas kepala sehingga pandangan tidak akan terhalang bangunan dan gedung bertingkat.

Perayaan Waisak yang dilaksanakan pada terang bulan (purnama sidhi) akan mendapat suguhan spektakuler.

Pencuri Riset Hayati Indonesia Berkedok Turis


Pencuri Riset Hayati Indonesia Berkedok Turis

Hasil penelitian keanekagaraman hayati  di Indonesia terancam dicuri pihak asing. Biasanya mereka berkedok turis.
Deputi Kepala Bidang Ilmu Pengetahuan Hayati LIPI, Bambang Prasetya mengungkapkan, pencurian riset atau contoh sampel biasanya menggunakan modus kerjasama dengan peneliti di beberapa perguruan tinggi.

“Mereka ini bukan peneliti formal. Mereka bermodus sebagai turis ke Indonesia, terus menjalin kerjasama dengan peneliti di daerah,” ujarnya seusai membuka Lokakarya Ekosistem Karst untuk Kelangsungan Hidup Bangsa di Pusat Penelitian Biologi LIPI, Cibinong Bogor, Kamis 3 Mei 2012.

Bambang prihatin dengan problem ini karena akan merugikan riset biologi di Indonesia.

Pada awal bulan lalu, publikasi hasil kerjasama riset dengan peneliti asing di jurnal internasional tidak mencantumkan nama peneliti LIPI.

Publikasi hasil riset yang dimaksud adalah penemuan spesies sekaligus genus tawon baru Megalara Garuda. Penemuan ini hasil ekspedisi Mekongga di Sulawesi Tenggara yang melibatkan peneliti LIPI, Rosichon Ubaidillah. Hasil penemuan kemudian dimuat di jurnal Zookeys. “Itu wanprestasi (ingkar janji) pada etika kesepakatan,” ujarnya.

Kasus ini sempat menjadi perhatian pemerintah Amerika Serikat. Peneliti yang bekerjasama dengan Rosichon salah satunya Lynn S Kimsey dari University of California, Davis, Amerika Serikat.

Bambang melanjutkan, pihaknya sudah mengirimkan surat kepada  Bruce Alberts, Utusan Presiden AS Obama dalam bidang sains.

“Dia konsen dalam hal ini. Kita sedang menunggu jawaban. Tapi,  biasanya kultur riset di sana, peneliti yang bersangkutan akan kena hukuman,” ujar Bambang.

“Kalau lokusnya di Indonesia dan tidak sebut patner penelitian, bisa ditindak,” katanya.

Terkait dengan etika kerjasama penelitian, Bambang merujuk pada kesepakatan Protokol Nagoya. Kesepakatan ini merupakan pengaturan internasional yang komprehensif dan efektif dalam memberikan perlindungan sumber daya genetik (SDG) dan menjamin pembagian keuntungan bagi Indonesia.

“Dalam protokol ini penelitian harus melibatkan peneliti lokal dan hasil riset harus memberikan manfaat bagi penduduk lokal,” jelasnya.

Berjalan 5 Tahun

Rosichon mengatakan fenomena pencurian keanekaragaman hayati melalui modus kerjasama riset ini terjadi sudah 5 tahun terakhir. Para peneliti asing masuk dengan memanfaatkan hubungan pertemanan dengan peneliti lokal.

“Mereka memanfaatkan hubungan perkenalan,” katanya yang dikenal sebagai peneliti serangga dengan spesialisasi serangga parasitoid.

Menurut Rosichon, sulit untuk mengendalikan hal tersebut karena peneliti datang dengan membawa nama pribadi. Dia meminta pihak terkait, dalam hal ini Kemenrisek, untuk menelusuri semua penelitian yang melibatkan peneliti asing.  “Kalau di LIPI semua ada kesepakatannya,” ujarnya.

Sumber : Vivanews

Temuan Terbaru Penyebab Punahnya Dinosaurus


Temuan Terbaru Penyebab Punahnya Dinosaurus

Sebagian besar orang percaya dinosaurus terhapus dari bumi karena bencana dahsyat sekitar 65 juta tahun lalu, seperti zaman es, aktivitas gunung berapi, dan hantaman asteroid.
Tim peneliti menemukan dinosaurus punah secara bertahap. Penurunan jumlah mereka menurun secara pasti.

Studi yang dipimpin Museum Sejarah Alam Nasional Amerika memberikan jawaban berbeda untuk menjelaskan kejatuhan dinosaurus. Para ilmuwan ini berpendapat makhluk herbivora raksasa, seperti brachiosaurus mati secara perlahan selama 12 juta tahun terakhir pada periode Kapur. Periode ini berlangsung pada akhir periode Jura hingga awal Paleosen. Periode ini paling lama, mencakup hampir setengah era Mosozoikum.

Penemuan ini dipublikasikan pada 1 Mei 2012 dalam jurnal Nature Communications. Hasil riset menggagalkan gagasan dinosaurus hidup sehat dan bahagia sebelum diserang asteroid.

“Apakah gunung meletus atau hantaman asteroid terjadi saat kondisi dinosaurus masih prima? Kami menemukan persoalan ini lebih kompleks dari itu. Mungkin tidak disebabkan oleh bencana tiba-tiba yang biasa digambarkan,” ujar penulis utama penelitian, Steve Brusatte  yang juga alumnus pascasarjana Universitas Columbia, Amerika Serikat seperti dikutip dari laman Dailymail.co.uk.

Menurut Brusatte, herbivora purba ini sudah terancam punah sebelum hantaman terjadi. Tapi, dinosaurus dan herbivora berukuran sedang tidak bermasalah. Dalam berbagai kasus, lokasi keberadaan dinosaurus menentukan kepunahan.

Penemuan ini didapat berdasarkan “morfologi disparitas” atau keragaman tipe struktur tubuh dinosaurus. Sementara riset sebelumnya berbasis waktu perubahan jumlah dinosaurus.

Ilmuwan Universitas Ludwig Maximilian, Munich, Jerman, Richard Butler menjelaskan studi membandingkan tipe tubuh dinosaurus dapat memberikan penjelasan lebih baik.

Dinosaurus memiliki perbedaan besar satu sama lain. Ada ratusan spesies hidup pada akhir periode Kapur. Perbedaan besar dinosaurus terletak pada pola makan, bentuk, dan ukuran. Setiap kelompok berkembang dengan cara yang berbeda pula.

Riset menemukan dinosaurus herbivora, hadrosaurus dan ceratopsids, telah mengalami penurunan keragaman hayati sejak 12 juta tahun sebelum akhirnya musnah.

Menurut Maximilian, periode akhir Kapur bukan dunia statis yang diganggu hantaman asteroid.

“Beberapa dinosaurus mengalami perubahan dramatis selama beberapa waktu. Herbivora besar diperkirakan telah menghadapi penurunan jumlah dalam jangka panjang,” imbuhnya.

Sumber : Vivanews

Pencurian Riset, Kerugian Tak Ternilai Materi


Pencurian Riset, Kerugian Tak Ternilai Materi

Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia merasa dirugikan akibat salah satu penelitian yang dilakukan bersama peneliti asing tidak mencantumkan nama peneliti LIPI. Publikasi hasil riset yang dimaksud adalah penemuan spesies sekaligus genus tawon baru, Megalara garuda.

Penemuan ini hasil ekspedisi Mekongga di Sulawesi Tenggara yang melibatkan peneliti LIPI, Rosichon Ubaidillah. Hasil penemuan kemudian dimuat di jurnal “Zookeys”.

Peneliti LIPI mengangap pencurian riset keanekaragaman hayati oleh peneliti asing bukan hanya soal kerugian materi. Namun, pencurian merupakan bukti tidak adanya penghargaan terhadap karya anak bangsa.

“Nilai kerugian intangible, tidak dapat dimaterikan. Sulit sekali, ini soal penghargaan bangsa lain, kami sudah tidak dianggap,” kata Peneliti Pusat Penelitian Biologi LIPI, Rosichon Ubaidillah di Gedung Zoologi Cibinonhg, Bogor, Kamis 3 Mei 2012.

Ia menambahkan bahwa kasus pencurian ini juga sudah termasuk penghinaan. “Ini penghinaan kedaulatan sains, padahal saya murni untuk kepentingan sains,” ujarnya dengan keras.

Karena merasa tak dianggap, Rosichon sudah menyampaikan protes kepada Lynn S. Kimsey dari University of California, Davis, Amerika Serikat, rekan riset hayati di Sulawesi Tenggara.

Akhir April lalu, ia menerima surat dari Lynn. “Dalam suratnya, Lynn berjanji akan kembalikan specimen ke LIPI, ia juga sampaikan permohonan maaf, dan mau mundur dari riset ini,” ujarnya.

Mengingat terlanjur kecewa, Rosichon meminta Lynn mengakhiri kerja sama 8 riset yang masih belum dipublikasikan. “Lebih baik nama saya dan spesimen dari Indonesia dikeluarkan dari paper, baru silakan Lynn publikasikan. Lupakan kerjasama,” ujarnya.

Sebelumnya, hasil riset itu terlihat hanya mencantumkan dua nama peneliti asing. Mereka adalah Lynn S. Kimsey dari University of California, Davis, Amerika Serikat dan Michael Ohl dari Museum fur Naturkunde, Jerman.

Sumber : Vivanews

Black Hole Membunuh Bintang


Black Hole Membunuh Bintang

Tidak perlu masuk ke dalam black hole (lubang hitam), berdekatan saja berbahaya. Para ahli astronomi mengumpulkan bukti langsung yang menunjukkan lubang hitam dapat menghancurkan bintang yang berada terlalu dekat.
Tim Eksplorasi Evolusi Galaksi NASA, observatorium angkasa luar, dan teleskop Pan-STARRS1  pada pertemuan di Haleakala, Hawaii membantu mengidetifikasi bangkai bintang.

Lubang hitam lebih berat sekitar miliaran dibanding matahari. Monster luar angkasa ini terlihat tenang sebelum memangsa korban seperti bintang. Kekuatan gravitasi lubang hitam siap menghancurkan bintang yang mulai berada terlalu dekat.

Ini bukan kali pertama pakar astronomi melihat pembunuhan bintang. Tapi, kali ini kali pertama mereka berhasil mengetahui identitas korban.

Pemimpin astronom, Suvi Gezari mengidentifikasi korban sebagai bintang yang kaya kandungan helium. Bintang ini berada di galaksi sekitar 2,7 miliar tahun cahaya. Hasil penemuan ini dimuat pada jurnal Nature edisi online.

“Ketika bintang dihancurkan hingga berkeping-keping oleh kekuatan gravitasi lubang hitam, beberapa bagian bintang jatuh ke dalam lubang hitam. Sisanya dikeluarkan dengan kecepatan tinggi,” ujar astronom dari Universitas Johns Hopkins, Amerika Serikat, seperti dikutip dari laman Nasa.gov.

Ilmuwan ini mengumpulkan bukti gas hidrogen dan helium dari TKP. Hidrogen dari bintang yang mengelilingi lubang hitam merupakan pecahan yang dihisap lubang ini sebelumnya. Pada saat itu, bintang ini mungkin tengah sekarat.

Setelah mengonsumsi sebagian besar bahan bakar hidrogen, dia mungkin telah membengkak menjadi raksasa merah. Para astronom menduga bintang membengkak itu mengitari lubang hitam dalam orbit melingkar, seperti orbit komet mengelilingi matahari.

Astronom memprediksi korban itu dibantai ketika mengelilingi lubang hitam pada galaksi Bimasakti. Pertemuan jarak dekat ini jarang terjadi, sekitar 100.000 tahun sekali.

Untuk mendeteksi peristiwa ini, tim Gezari memantau ratusan ribu galaksi dengan sinar ultraviolet menggunakan Pan-STARRS1. Telekskop ini digunakan untuk mengamati berbagai fenomena langit malam.

Sumber : NASA

Gunung Berapi Super Ternyata Sangat Aktif


Gunung Berapi Super Ternyata Sangat Aktif

Erupsi gunung berapi super (supervolcano) merupakan ancaman bencana alam yang paling berbahaya bagi planet kita. Para ilmuwan kini percaya letusan gunung Yellowstone, Amerika Serikat, lebih aktif dari yang diperkirakan.
Dua juta tahun lalu, erupsi supervolcano membuat langit gelap dengan semburan debu dari selatan California ke Sungai Mississippi. Sebanyak 500 kubik mil abu dimuntahkan ke langit.

Letusan kedua terjadi sekitar 6.000 tahun kemudian. Para ahli kini yakin letusan Yellowstone lebih sering dibanding yang mereka duga. Studi yang didanai Yayasan Sains Nasional dipublikasi pada jurnal Quaternary Geochronology.

Peneliti Universitas Washington, Amerika Serikat, dan Pusat Penelitian Lingkungan Universitas Skotlandia mengatakan erupsi terbesar Yellowstone 2 juta tahun lalu berbeda dengan letusan 6.000 tahun setelahnya.

“Riset menemukan ledakan volkanik Yellowstone lebih sering dibanding perkiraan sebelumnya,” ujar penulis hasil riset sekaligus peneliti Universitas Washington, Ben Ellis, seperti dikutip dari laman Dailymail.co.uk.

Erupsi supervolcano masuk kategori berbahaya karena dapat memicu perubahan iklim yang menginduksi Zaman Es dan hantaman lain.

Peristiwa semacam ini terjadi pada letusan Huckleberry Ridge yang 2.000 kali lebih besar dari erupsi Gunung St. Helens di Washington pada 1980.

Serupa serangan meteor, erupsi super ini mengakibatkan gangguan lingkungan terburuk bagi planet bumi.

Penemuan ini dapat memberikan gambaran perkiraan erupsi besar pada tahun mendatang. Sebelum para peneliti membagi satu erupsi menjadi dua, letusan Huckleberry Ridge menjadi terbesar keempat sepanjang masa.

Sumber : DailyMail